Mie Ongklok Khas Wonosobo

Mie Ongklok Khas Wonosobo

Apa yang Anda lakukan jika hujan? Pasti ada di antara Anda yang merespons dengan mengonsumsi makanan panas seperti mie, misalnya. Makan mie dalam cuaca dingin dengan hujan di luar sangat memadai dan patut dicoba. Kaldu mie panas adalah alasan utama mie menjadi makanan favorit saat cuaca kurang bersahabat. Selain itu, mie adalah makanan umum di Asia, khususnya Indonesia, sehingga mudah ditemukan di mana-mana.

Nah, jika Anda berada di Wonosobo, hidangan mie harus dimasukkan dalam daftar makanan yang layak dicoba saat hujan atau ketika dingin. Wonosobo adalah kabupaten yang memiliki iklim dingin karena wilayahnya diapit oleh dua gunung besar, yaitu Sindoro dan Sumbing. Tidak aneh jika mie menjadi salah satu makanan andalan mereka. Salah satu mie tradisional Wonosobo yang legendaris dan legendaris adalah mie ongklok. Mie ini sangat direkomendasikan ketika mengunjungi Wonosobo dengan Dieng sebagai tur andalannya.

Mi ongklok sepintas mirip dengan mi ayam yang sering dijual oleh pedagang kaki lima. Tapi jangan salah, mie ayam dan mie ongklok sangat berbeda, terutama dalam bumbu.

Mie ongklok memiliki bumbu spesial sendiri. Bumbunya terdiri dari daun bawang, kanji, kol, dan rempah-rempah lainnya. Karakteristik mie ongklok selain dari rendaman adalah cara mereka disajikan. Sebelum disajikan dalam semangkuk mie, ongklok disajikan sebagai tempat merebus mie. Ongklok adalah sejenis anyaman bambu yang berbentuk seperti sendok besar. Jadi tidak mengherankan jika mie ini disebut mie ongklok.

Setelah disajikan di meja, hidangan pelengkap seperti tempe kemul khas Wonosobo, sate sapi dan cireng disajikan (cireng khas Wonosobo lebih besar dari cireng biasa). Inilah yang membedakan mie ongklok dari mie ayam pada umumnya. Jika mie ayam menggunakan potongan ayam kecil, mie ongklok menggunakan sate yang baru saja dibakar oleh pedagang. Sebenarnya, sate ini bisa ditambahkan sesuai selera. Sebelum memasak mie ongklok, pedagang biasanya akan bertanya kepada pembeli apakah akan menambahkan sate atau tidak.

Harga satu porsi mie ongklok tidak jauh berbeda dari mie ayam yang biasa kita beli, sekitar 10.000 rupee untuk satu porsi tanpa sate dan tempe kemul atau cireng. Sementara harga masing-masing tempe kemul dan cireng hanya 500 rupee.

Rasanya hambar jika bepergian ke Wonosobo tidak merasakan mie ongklok karena ini jarang ditemukan di daerah lain selain Wonosobo. Ini berbeda dengan dumpling Malang, dumpling Solo, atau mie ayam. Meski rasanya sama enaknya. Beberapa orang kecanduan mencoba mie ongklok seperti saya.

Mie ongklok mudah ditemukan jika kita mengunjungi Wonosobo, ingin dudukan pinggir jalan dengan gerobak, atau restoran di rumah. Sesuaikan saja anggarannya. Kalau mau murah, tentu saja stand pinggir jalan adalah pilihan terbaik. Tapi, jika Anda menginginkan sesuatu yang lebih elegan, tentu saja restoran tersebut akan menjadi pilihan Anda. Sedangkan untuk rasa, saya pikir itu tidak jauh berbeda karena rempah-rempah yang digunakan adalah sama.

Sayang sekali, mie ongklok tidak setenar pangsit Malang atau masakan Padang yang mudah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Meskipun mie ongklok tidak kalah istimewa dari masakan Indonesia lainnya. Ini adalah tugas Pemerintah Indonesia dengan pemerintahan barunya yang perlu memelihara, melestarikan dan memperkenalkan makanan tradisional Wonosobo, yang jarang diketahui masyarakat umum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *