Pertolongan dan Penanganan Setelah Kaki atau Tangan Diamputasi

Pertolongan dan Penanganan Setelah Kaki atau Tangan Diamputasi

Bagi orang yang telah diamputasi karena cedera, mereka mungkin tidak melalui tahap penderitaan. Namun, gejala PTSD mungkin perlu diperiksa untuk mencegah komplikasi psikologis.

Pertolongan Pertama Saat Amputasi

Pertolongan dan Penanganan Setelah Kaki atau Tangan Diamputasi
kaki-palsu-untuk-kaki-yang-diamputasi

Ada beberapa langkah pertolongan pertama yang dapat diambil untuk korban amputasi, termasuk:

  • Periksa pernapasan dan denyut jantung korban. Jika perlu, lakukan CPR.
  • Berusaha untuk menenangkan korban. Ini harus dilakukan karena amputasi sangat menyakitkan dan menakutkan.
  • Ambil tindakan untuk menghentikan pendarahan dengan menekan luka secara langsung. Angkat bagian tubuh yang diamputasi. Jika pendarahan berlanjut, periksa kembali sumber pendarahan dan tekan sumber pendarahan.
  • Jika korban mengalami pendarahan hebat dan mengancam jiwa, gunakan perban atau borgol, dan tutup lukanya dengan erat. Namun, penggunaan perban tidak boleh untuk jangka waktu yang lama, karena dapat membahayakan korban.
  • Jaga bagian tubuh yang rusak dan pastikan seseorang selalu menemani korban. Kemudian perlahan-lahan membersihkan bagian tubuh yang terputus.
  • Bungkus bagian tubuh yang rusak dengan kain lembab yang bersih, lalu letakkan di plastik yang tertutup rapat dan letakkan plastik di semangkuk air es.
  • Jangan letakkan bagian tubuh yang rusak secara langsung tanpa menggunakan plastik dan jangan gunakan es kering.
  • Jika air dingin tidak tersedia, pastikan untuk menjaga bagian tubuh yang terputus panas. Bawa dia ke rumah sakit atau simpan di tempat yang aman sampai tim medis tiba.
  • Dinginkan bagian tubuh yang diamputasi, sehingga masih memungkinkan untuk menyambungkan kembali bagian tubuh yang terpisah. Tanpa pendinginan, bodi yang diamputasi hanya bisa bertahan 4-6 jam untuk terhubung kembali. Namun, jaga agar seluruh tubuh korban tetap hangat.
  • Ambil langkah-langkah untuk mencegah kejutan. Tempatkan korban pada permukaan yang rata, angkat kaki sekitar 30 cm, dan tutupi tubuh korban dengan selimut. Jangan letakkan korban pada posisi ini jika pasien mengalami cedera kepala, leher, punggung, atau tungkai, dan jika posisi ini membuat korban tidak nyaman.
  • Ketika perdarahan dapat dihentikan, periksa kondisi korban jika ada tanda-tanda cedera yang membutuhkan perawatan segera. Jaga baik-baik patah tulang, luka sobekan, dan cedera lainnya.
  • Menemani korban sampai bantuan medis tiba.

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan ketika melakukan pertolongan pertama untuk korban amputasi adalah:

  • Jangan lupa bahwa menyelamatkan hidup seseorang lebih penting daripada menyelamatkan tubuh yang rusak.
  • Jangan abaikan cedera ringan lainnya.
  • Jangan mengembalikan terlalu banyak bagian tubuh ke tempat semula.
  • Jangan menganggap bagian tubuh yang terputus terlalu kecil untuk diselamatkan.
  • Jangan menggunakan lap, kecuali dalam kondisi perdarahan parah yang mengancam kehidupan seseorang karena semua bagian tubuh bisa terancam.
  • Jangan memberikan harapan buruk kepada seorang anak korban.

Penanganan Setelah Amputasi

Ada beberapa jenis perawatan yang umumnya diteruskan kepada pasien setelah amputasi, termasuk:

Penyesuaian emosional. Kehilangan bagian-bagian tubuh menyebabkan pasien menjadi depresi. Konsultasi dengan dokter atau berdiskusi dengan pasien lain akan membantu mengatasi kehilangan pasien. Dukungan dari keluarga dan kerabat dekat juga dapat membantu pasien di masa-masa sulit. Seiring waktu, pasien akan dapat beradaptasi dengan perubahan penampilan dan menemukan cara baru untuk melakukan kegiatan sehari-hari.

Sensasi phantom adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan jenis sensasi yang biasanya diderita pasien dengan ekstremitas yang diamputasi. Ketika pasien memiliki sensasi delusi, pasien akan merasa bahwa anggota badan yang diamputasi masih ada. Kondisi ini bukan gangguan mental, melainkan respons otak yang masih terasa hilang bagian tubuh.

Selama sensasi ini tidak menimbulkan rasa sakit atau membahayakan pasien, pasien tidak perlu perawatan khusus.
Nyeri. Kebanyakan pasien amputasi mengalami rasa sakit di sisa tubuh atau kaki. Kondisi ini disebut sindrom plasebo. Nyeri dapat disebabkan oleh terhambatnya sirkulasi darah dan kerusakan saraf akibat diabetes.

Konsultasikan rasa sakit pasien ke dokter sebelum rasa sakit memburuk.
Rehabilitasi. Rehabilitasi atau terapi fisik sangat penting bagi pasien amputasi. Ini dilakukan untuk mencegah ketebalan sendi akibat amputasi, meningkatkan sirkulasi darah, dan mengurangi risiko kontraksi otot. Jenis-jenis rehabilitasi yang dapat dilakukan pada pasien amputasi meliputi:

  • Latihan peregangan.
  • Pelatihan kekuatan.
  • Menjalankan latihan dengan atau tanpa alat bantu seperti kaki palsu cek : Harga kaki palsu)
  • Manajemen dan perawatan prosthetics.
  • Perawatan dan pemeliharaan anggota tubuh yang tersisa.

Prosetetik. Prostetik mampu menggantikan fungsi dan penampilan anggota badan yang hilang. Jenis prostesis umumnya disesuaikan dengan bentuk dan ukuran jari, tangan, lengan, kaki atau tungkai yang tersisa dan kebutuhan fungsional sehari-hari pasien. Prostesis biasanya dilakukan dengan teknik casting atau metode komputer yang dirancang khusus untuk bagian tubuh pasien. Umumnya, pasien akan dilatih untuk menggunakan prostesis dan instruksi untuk merawat anggota tubuh atau bagian tubuh yang tersisa.

Komplikasi amputasi

Komplikasi yang mungkin terjadi setelah amputasi, baik karena suatu tindakan atau cedera, termasuk:

  • Pendarahan.
  • Infeksi.
  • Kerusakan pembuluh darah dan saraf.
  • Nyeri.
  • Nyeri pada anggota gerak delusi, yaitu rasa sakit yang dirasakan oleh organ yang tidak lagi Anda miliki.
  • Trombosis vena dalam (DVT).

Hubungi dokter Anda segera jika Anda merasa atau telah melihat tanda-tanda berikut setelah amputasi:

  • Demam atau kedinginan.
  • Nyeri di sekitar area amputasi.
  • Luka yang dilas tampak merah, bengkak, atau berdarah.
  • Bagian tubuh yang sehat mengalami mati rasa atau kesemutan.
  • Formasi cair atau nanah.

Pencegahan Amputasi

Umumnya, amputasi akibat cedera tiba-tiba terjadi secara tak terduga, sehingga sangat sulit dicegah. Tetapi untuk keadaan tertentu, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah amputasi potensial, termasuk:

Untuk penderita diabetes, beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk mencegah risiko amputasi adalah:

  • Periksa kaki secara teratur setiap hari.
  • Jangan meremehkan rasa sakit di kaki.
  • Gunting secara teratur.
  • Pastikan lantai bersih dari benda-benda tajam.
  • Selalu gunakan sepatu, termasuk di rumah.
  • Beli sepatu dan kaus kaki yang nyaman dan periksa sebelum digunakan. Toko rekomendasi di Kurnia Putra Ortopedi

Hubungi dokter Anda segera jika kaki Anda membengkak, berubah merah, atau ukuran atau bentuknya berubah.

Lingkungan kerja. Beberapa lingkungan kerja memiliki risiko amputasi yang tinggi. Pekerja harus mengenali, mengidentifikasi, mengelola, dan mengendalikan risiko amputasi. Risiko amputasi biasanya disebabkan oleh komponen mesin, gerakan, dan aktivitas pekerja saat mengoperasikan mesin. Ada beberapa hal yang dilakukan untuk mengurangi risiko amputasi di lingkungan kerja, termasuk:

Memberikan pelatihan dan praktik keselamatan kerja kepada karyawan.
Kenakan peralatan pelindung saat berada di area kerja yang berbahaya.
Gunakan perangkat bantu atau perangkat untuk mencegah kontak langsung dengan mesin berbahaya, seperti alat penggiling, pemotong, atau excavator.

Anak-anak (di bawah 18 tahun) dilarang bekerja dengan mesin berbahaya. Semoga bermanfaat artikel ini untuk semua orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *